nikah mut'ah

Apa Itu Nikah Mut’ah ? Berikut Penjelasan, Syarat, Hukum Dalam Islam

Diposting pada

nikah mut’ah Problem seksual sebuah realita yang benar-benar terjadi. Manusia apapun itu mustahil bisa meremehkannya dan memandang cukup bahayanya. Ini sebuah problem yang terjadi sepanjang sejarah.

Semenjak manusia lahir dan tumbuh, dan berkembang jadi dewasa sudah diberi oleh Allah SWT gairah seksual untuk kebaikan dan manfaat semua umat manusia.

Namun, pada jaman kita saat ini, problem seksual sudah makin kronis resikonya dan semakin sulit, berlainan dengan jaman awalnya, karena ada pertemanan bebas yang tidak mengenali batasan di antara dua tipe kelamin pada berbagai tempat.

Permasalahan nikah mut’ah ialah topik yang banyak dibicarakan antara kita, dimulai dari jaman Nabi sampai saat ini ini. Salah satunya yang terdapat di dalam perkawinan mut’ah ialah mempermudah kehidupan free seks yang tidak terlilit dengan ikatan apapun itu, dan lepas dari tanggung-jawab perkawinan.

Dalam literatur yang terdapat rupanya nikah mut’ah dikenali dilapisan syi’ah, selainnya paham syi’ah tidak benarkan berfungsinya nikah mut’ah sesudah ditanyakan larangan dari Nabi Muhammad Saw, dalam sebuah hadits shahihnya.

Pemahaman Nikah Mut’ah

Menurut philology dalam bahasa disebutkan, jika ini bertopik dengan rumpun dan kata teman, yang bermakna rekan, teman dekat, hingga kawin memiliki kandungan makna yang sama.

Bedanya cuma kawin dengan “A” dan pada kawin dengan “I “.ini memberikan makna yang sedikit berlainan dan bawa makna lebih mendalam. Dalam Islam, sebetulnya kawin sebaiknya ketahui calon pasangannya sekalinya tanpa persahabatan.

Dan harus berdasar sama-sama menyukai tidak ada desakan dari siapapun. Tidak juga bisa dikarenakan oleh suatu hal problem awalnya yang jadikan perkawinan itu mau tak mau di kerjakan.

Perkawinan dalam Islam bukan semata-mata jalinan jasmani untuk manfaat nafsu dan memiliki sifat sementara di saat dibutuhkan belaka.

Disamping itu jika perkawinan ialah melestarikan hidup dalam duniawi dengan melahirkan turunan yang susul untuk menjayakan dari bumi Allah.

Perkawinan pada Islam diberi nama “Zawaj” atau “Nikah”, maknanya pasangan dalam makna dua makhluk dijadikan pasangan hidup. Ada yang mendefinisikan jika nikah ialah ikrar yang mengikat serta dengan rukun-rukun dan persyaratan yang menghalalkan pasangan dua tipe manusia untuk hidup dengan cara secara halal di dalam jalinan yang resmi secara dalam di mana mendapatkan persetubuhan yang jaga nafsu, mata dan pikiran dari sikap yang mencelakakan dan menjerumuskan.

Kata mut’ah di definisikan selingan atau kesenangan. Disaksikan dari makna bahasa ini, karena itu mut’ah maknanya pernikahan hanya untuk maksud selingan, memberikan kepuasan syahwat.

Dalam makna istilah mut’ah adalah perkawinan sementara dengan tujuan hanya cari kepuasan seksual untuk faksi laki- faksi wanita dan laki.

Untuk faksi wanita bisa menjadi dapat dijadikan perkawinannya. Sesudah saat perkawinannya selesai, sendirinya ikatan itu juga terputus, faksi wanita memperoleh upah.

Jadi nikah mut’ah ialah nikah yang dilakukan seorang dengan tujuan hanya untuk melepas nafsu dan bergembira untuk saat ini waktu. Nikah itu dilarang karena dilakukan untuk saat yang terbatas dan maksudnya tidak sesuai tujuan perkawinan yang di syari’atkan.[4]

Persyaratan nikah mut’ah

Saat Islam ketika belum turun, pengertian nikah mut’ah rupanya telah membudaya di warga. Di saat itu syariat yang mana Islam belum molorangnya. Maknanya adalah agar aqidah Islam menyerap dulu, baru sesudah pengetahuan aqidah menyerap larangan mut’ah diterapkan.

Semua kaun muslimin setuju jika Islam sudah menghalalkan dalam pernikahan mut’ah sepanjang sekian hari pada kejadian penguasaan kota Makkah yakni sepanjang 3 hari saja (Nabi yang Agung dan selalu jaga kemaluan dengan cara menghalalkan pernikahan secara mut’ah ke beberapa teman dekatnya untuk bermut’ah), yang terjadi di tahun kelima H.

Menyaksikan dari sejarah di atas, karena itu Kelompok syi’ah mendefinisikan dan mengaitkan jika nikah mut’ah itu bisa dilakukan untuk umat Islam, sama sesuai apa yang sudah dibolehkan tanpa pahami kemudian Rasul molorangnya. Di sini akan diulas sedikit di kelompok Syi’ah mengenai nikah mut’ah.

Nikah Mut’ah Halal di Kelompok Syi’ah

Menurut syi’ah, mut’ah jangan dilakukan kembali oleh orang yang ketahui secara betul. Tujuannya yakin dengan kisah-riwayat berbohong yang mengatas-namakan perkataan pakar bait dan yang ketahui kebebasan seks. Bila dia yakin pada hal tersebut, halal untuknya nikah mut’ah. Sementara pada orang yang tidak ketahuinya haram.

Nikah mut’ah yang berjalan di kelompok syi’ah adalah dengan batasan waktu yang terang dan dengan imbalan gaji yang terang pula. Ketetapan ini dengan automatis gagal sesudah saat yang sudah ditetapkan itu usai.

Adapun berkenaan sighad (ikrar) nikah mut’ah ialah sama seperti yang diriwayatkan dari Abban bin Thaghlib, dia berbicara : Saya menanyakan ke Abu Abdullah : “Apa yang hendak saya ucapkan ke wanita jika saya bersunyi-sunyian dalam dengannya? Dia menjawab : kamu menjelaskan : Saya menikah denganmu dengan mut’ah atas dasar Kitabullah dan sunnah Nabi, tidak waris-mewarisi, sepanjang beberapa hari apabila kamu menginginkan, untuk beberapa tahun, dengan imbalan demikian dirham. Kamu sebut imbalannya menurut yang sudah disetujui, banyak atau sedikit. Bila dia menjelaskan ya, bermakna ia ikhlas dan dia sudah jadi istrimu.

Hukum Nikah Mut’ah

Menurut sumber terang sekali, hukum nikah mut’ah itu haram, lain kembali dengan paham syi’ah. Mereka memperkenankan nikah mut’ah seperti opini umum ketahuinya. Sudah pasti mereka berargumen juga, bahkan juga memakai ayat dan hadits sebagai alasannya.

Justifikasi pengetahuan mut’ah didasari atas tafsiran salah, yakni pemakaian ke-24 dari surat an-Nisa’, yang maknanya : “Jika kamu lakukan nikah mut’ah, karena itu bayarlah mahar mereka sebagai sesuatu kewajiban “.

Ayat ini menyengaja dipotong agar artinya tidak sama dengan tafsir jumhur ulama Sunni. Walau sebenarnya ayat ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan nikah mut’ah, namun mengulas masalah mahar untuk istri yang resmi di nikahi.

Imam al-Qurthubi, seorang ulama Sunni menulis dalam tafsirnya jika Q.S. an-Nisa’ : 24, dimengerti oleh sebagian besar ulama sebagai ijin lakukan nikah mut’ah, tapi itu di awal saat Islam dan ijin itu sudah di diurungkan atau cabut.

Memang beberapa hadits sah yang menunjukkan jika nikah mut’ah sebelumnya pernah dilakukan oleh beberapa teman dekat Nabi dan beliau tidak melarang, tetapi selanjutnya diurungkan

Opini beberapa ulama mengenai Nikah Mut’ah

1) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Dalam kitabnya Manhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, mengatakan tidak ada satu juga ayat al-Qur’an yang memperkenankan pernikahan mut’ah.

Golongan Sunni bukan saja meng ikuti opini Umar bin Khattab, tetapi juga semua Khulafaur Rasyidin termasuk teman dekat Ali r.a yang oleh kelompok syi’ah dimuluskan (tidak setahu teman dekat Ali r.a itu sendiri).

Anehnya, golongan Syi’ah malah membolehkannya, walau sebenarnya Ali r.a melarang, tidak menyepakati.

2) Ulama Sunni

Ulama Sunni memandang meskipun ada ketidaksamaan mengenai permasalahan diurungkannya, tetapi yang terang jika keseluruhnya kisah itu setuju mengatakan dilaranginya nikah mut’ah, dengan begitu tidak butuh dipermasalahkan kembali mengenai waktu pelarangannya, yang terpenting ialah larangannya.

Dari ulasan mengenai nikah mut’ah ini, pemakalah bisa ambil sebuah ringkasan, sebelumnya Rasulullah S.a.w memang membolehkan nikah mut’ah, untuk kebaikan umat Islam itu sendiri.

Namun kemudian Rasul larang keras nikah itu, karena dilihat tidak sesuai bimbingan Islam tersebut yang mana jika Islam ialah “Rahmatan lil alamin”

Dengan diharamkannya nikah mut’ah, saat direnungi rupanya banyak makna yang terdapat didalamnya, diantaranya :

  • Menghindari muslimin dari tujuan perkawinan yang lebih rendah, yang mana perkawinan dalam Islam ditempatkan dalam posisi yang suci, mulia dan agung
  • Menghindari golongan mukminah dari perlakuan rendah jual diri cuma untuk kebutuhan syahwat
  • Melepaskan dari tujuan jelek telantarkan turunan (beberapa anak) yang mungkin lahir dari nikah mut’ah
  • Menghindari pandangan merendahkan syariat nikah, karenanya nikah mut’ah sebuah perkawinan tidak punyai arti. Wanita dalam ejekan dan derajat yang rendah.

Menyikapi mengenai permasalahan perzinaan, pemakalah mengaitkan meskipun ulama bermadzhab Sunni memperjelas keharaman nikah mut’ah, kita tidak dapat mempersamakannya dengan sempurna. Jika zina dengan cara tepat dan tegas diharamkan dalam al-Qur’an, yang mana jika dekati saja jangan apalagi melakukannya.

Saat bisa dibuktikan ada yang lakukan perzinaan dan di tonton oleh 4 orang atau mengaku sendiri mengenai perlakuannya, bisa dihukum rajam atau dera. Ini sudah disetujui oleh semua umat Islam, dan mut’ah ada yang membolehkannya.
Karena itu, dapat kami simpulkan jika nikah mut’ah tidak bisa diterima pada kondisi apapun itu, oleh haram hukumnya dan siapa saja, Sumber Artikel ini Dari : https://www.hukumonline.com/berita/a/nikah-mutah-lt61a5d9ad34240/